obat antiseptik

Jumat, 20 Januari 2012

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Antiseptik Sebagai Obat Kumur -
Peranannya terhadap Pembentukan
Plak Gigi dan Radang Gusi
Prijantojo
Laboratorium Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Peranan plak gigi terhadap terjadinya kelainan periodontal
sudah dikenal selama hampir 80 tahun
(1,2,3)
. Kelainan periodontal
yang lanjut biasanya ditandai dengan adanya radang jaringan
lunak, kerusakan mcmbran periodontal, kerusakan tulang serta
bergeraknya epithelial attachment ke arah apikal
(4)
.
Sebelum ditemukan bahan-bahan kimia khususnya anti-
septik yang dapat menghambat pertumbuhan plak gigi, usaha
untuk mengurangi/mencegah pertumbuhan plak dilakukan se-
cara mekanis dengan memakai sikat gigi
(5)
. Cara ini ternyata
kurang efektif, karena hanya berperan terhadap plak gigi yang
supragingival. Di samping itu cara ini tidak mungkin dilakukan
secara sempurna pada tiap individu karena adanya beberapa
faktor misalnya letak gigi yang berjejal. Untuk mencegah ter-
jadinya plak yang merupakan kumpulan mikroorganisme secara
sempurna, maka para pakar di bidang periodontologi mengada-
kan penelitian-penelitian menggunakan antiseptik yang mem-
punyai sifat antibakteri. Kebanyakan antiseptik dikemas dalam
bentuk obat kumur, walaupun ada beberapa yang dikemas dalam
bentuk gel/pasta gigi.
Pemakaian antiseptik sebagai obat kumur mempunyai peran
ganda yaitu sebagai pencegahan langsung pertumbuhan plak
gigi supragingiva dan sebagai terapi langsung terhadap plak gigi
subgingiva
(5)
. Sampai sekarang kontrol plak secara kimia
dengan menggunakan antiseptik sebagai obat kumur
berkembang de- ngan pesat baik di lingkungan dokter gigi
maupun di kalangan masyarakat.
Pada makalah ini akan dibahas peran beberapa macam anti-
septik yang merupakan bahan dasar obat kumur dalam upaya
mencegah atau mengurangi terjadinya kelainan periodontal ter-
masuk radang gusi.
PEMBAHASAN
Antiseptik merupakan suatu senyawa yang dapat mengham-
bat pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme tanpa
merusak secara keseluruhan
(6)
. Sebagai antibakteri, pemakaian
antiseptik sebagai obat kumur bertujuan untuk menghambat
pertumbuhan bakteri plak
(7)
. Karena bakteri plak merupakan
penyebab kelainan periodontal maka diharapkan pemakaian obat
kumur akan dapat mengurangi terjadinya kelainan periodontal
(8)
.
Para dokter gigi yang bekerja di klinik ternyata mendukung
pendapat beberapa peneliti bahwa kontrol plak secara kimia
dengan menggunakan antiseptik sangat membantu kontrol plak
secara mekanis
(9-12)
.
Dalam makalah ini dikemukakan beberapa macam anti-
septik yang digunakan sebagai bahan dasar obat kumur yang
dipasarkan di Indonesia.
LISTERIN
Listerin dipasarkan dengan merek dagang Listerin®, me-
rupakan antiseptik yang efektif sebagai anti plak. Uji coba klinis
antara 7­60 hari menunjukkan adanya hambatan pembentukan
plak dan radang gingiva bila digunakan untuk membantu kontrol
plak secara mekanis
(13,14,15)
. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian Lamser dkk. selama 6 bulan, yang menunjukkan
bahwa listerin dapat mengurangi penimbunan plak dan menu-
runkan derajat keradangan gingiva
(16,17)
.
Gordon dkk.
(18)
melakukan penelitian untuk membuktikan
pengaruh listerin terhadap pembentukan plak dan gingivitis.
Pada penelitian ini dilibatkan 144 mahasiswa kedokteran gigi
dan staf Fakultas Kedokteran Gigi di Dickinson, umur antara
18­54 tahun. Orang percobaan kumur-kumur dengan larutan
listerin 2 kali sehari sebanyak 20 ml tiap kali kumur selama 30
Dibacakan pada Seminar Sehari tentang Periodontogi (One Day Course on
Periodontogy), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Bandung.
12 Agustus 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
28
background image
detik. Selama 6 bulan penggunaan obat kumur diawasi oleh
petugas kecuali hari libur dan 3 bulan terakhir. Evaluasi di-
lakukan pada bulan 1, 3,6,9. Hasilnya menunjukkan penurunan
skor plak yang bermakna pada bulan 1, 3 dan 6 bila dibanding-
kan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) sebesar 12,1%,
18,3%, 18% pada bulan 1, 3 dan 6. Pada 3 bulan terakhir hanya
85 orang percobaan dievaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan
adanya penurunan indeks plak yang bermakna yaitu sebanyak
15,5%, 20,9%, 23,7% dan 19,5% pada bulan 1, 3, 6 dan 9.
Terhadap radang gingiva, didapat penurunan indeks radang se-
banyak 0,9%, 7,9%, 10,4% pada bulan 1, 3 dan 6. Bila diban-
dingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) maka
penurunan indeks radang ini tidak bermakna. Pada bulan ke 9,
85 orang dan 144 orang percobaan dievaluasi perubahan indeks
radang gingivanya; hasilnya didapat penurunan indeks radang
gingiva sebanyak 5,1%, 9,0%, 20,8% dan 23,9% pada bulan 1,3,
6, dan 9. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur
dengan air) hasil ini menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Penelitian 1ain melibatkan 131 orang percobaan yang pada
akhir percobaan tinggal 103 orang. Orang percobaan dibagi
dalam 3 kelompok yaitu kelompok I kumur dengan listerin 4 kali
sehari. kelompok II kumur dengan listerin 2 kali sehari dan
kelompok III kumur dengan air/plasebo 2 kali sehari. Penelitian
dilakukan selama 2 minggu dan menunjukkan hasil sebagai
berikut: Pada kelompok kumur 4 kali sehari terjadi penurunan
indeks plak sebanyak 48,2%, kelompok 2 kali kumur sebanyak
38,8%. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol didapatkan
perbedaan yang bermakna.
Hasil evaluasi radang gingiva mendapatkan penurunan in-
deks radang gingiva sebanyak 59,6% pada kelompok kumur 4
kali sehari dan 56,4% pada kelompok kumur 2 kali sehari. Bila
dibandingkan dengan kelompok kontrol maka didapatkan per-
bedaan yang bermakna; namun bila kelompok kumur 4 kali se-
hari dibandingkan dengan kelompok kumur 2 kali sehari tidak
didapatkan perbedaan yang bermakna.
POVIDONE IODINE
Povidone Iodine 1 % sebagai obat kumur yang dipasarkan
dengan merek dagang Betadine® (untuk selanjutnya kami sebut
betadine) sebagai antiseptik mempunyai sifat antibakteri. Obat
kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi bakteremia setelah
pencabutan gigi atau setelah perawatan bedah
(20,21)
. Efek betadine
terhadap bakteri rongga mulut sangat cepat dan pada konsentrasi
yang tinggi dapat mematikan bakteri rongga mu1ut
(22)
. Bila di-
bandingkan dengan chlorhexidine, betadine hanya sedikit mem-
punyai sifat anti p1ak
(23)
.
Addy dkk.
(22)
mengadakan penelitian untuk membuktikan
pengaruh povidone iodine (Betadin) terhadap pembentukan plak
dan jumlah bakteri dalam ludah. Penelitian dilakukan terhadap
18 orang percobaan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu ke-
lompok yang kumur dengan betadin dan kelompok lain kumur
dengan plasebo/air. Masing-masing orang percobaan kumur-
kumur dengan betadine/plasebo 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap
kali kumur selama 1 menit. Percobaan dilakukan selama 10 hari
dengan kontrol pada hari 2,4,5,6,9. Hasil evaluasi sampai akhir
percobaan menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna dari
indeks plak antara kedua kelompok, namun didapatkan penurun-
an jumlah bakteri dalam ludah sebanyak 39,2% bakteri aerob dan
31,3% bakteri anaerob. Penurunan terjadi 1­2 jam setelah
kumur-kumur. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine penu-
runan jumlah bakteri jauh berkurang(
24)
. Penelitian menyimpul-
kan bahwa povidon iodin tidak dianjurkan untuk membantu
kebersihan mulut dan perawatan gingivitis karena tidak dapat
menurunkan terjadinya penumpukan plak sehingga radang gusi
akan terus berlangsung
(22)
.
HEXETIDINE
Hexetidine sebagai obat kumur dipasarkan dengan merek
dagang Bactidol® termasuk golongan antiseptik dan merupakan
derivat piridin
(25)
. Mempunyai sifat antibakteri, bermanfaat un-
tuk bakteri Gram positif dan Gram negatif, dan dapat digunakan
untuk mengurangi terjadinya keradangan. Hexetidine merupakan
antibakteri dengan spektrum luas dengan konsentrasi rendah
bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mu1ut
(26)
. Hexetidine
dapa digunakan pada penderita dengan radang rongga mulut dan
nasopharynx
(26,27,28)
. Pernyataan ini dibuktikan pada percobaan
dengan larutan 0,1 % hexetidine sebagai obat kumur pada orang-
orang Anglo di Amerika yang menderita radang rongga mulut;
ternyata radang dapat sembuh dengan baik. Hal ini berarti
hexetidine akan bermanfaat untuk penderita dengan kelainan
periodontal yang disebabkan oleh mikroorganisme. Penelitian
1ain
(29)
membuktikan bahwa hexetidine dapat mengikat protein
mukosa mulut sehingga dapat menguntungkan hexetidine seba-
gai antibakteri. Pendapat ini diperkuat oleh Bourgonet
(30)
yang
mengatakan bahwa hexetidine dapat memperpanjang efek anti-
bakteri karena adanya ikatan dengan protein mukosa. Ikatan pro-
tein tersebut akan menghambat metabolisme mikroorganisme
yang berada pada permukaan mukosa dan plak. Ikatan dengan
mukosa dan plak ini terjadi selama 7 jam setelah kumur
(31)
. Pe-
nelitian menggunakan larutan 0,1% hexetidine sebagai obat
kumur pada orang-orang percobaan selama 14 hari dapat menu-
runkan radang gingiva sampai 34% pada hari ke 7 dan 38% pada
hari ke 15
(37)
, tergantung dari keparahan keradangan maka rata-
rata akan sembuh selama 4 minggu
(33)
.
Hexetidine juga dapat menghambat pertumbuhan plak, te-
tapi kurang efektif bila dibandingkan dengan chlorhexidine
(31)
.
Penelitian dengan menggunakan larutan 0,1% hexetidine se-
bagai obat kumur yang dipakai 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap
kali kumur selama 30­60 detik, menyebabkan penurunan indeks
plak sebanyak 25% pada hari ke 3 dan 52% pada hari ke 7. Bila
dibandingkan dengan plasebo penurunan terjadinya akumulasi
plak tidak ada berbeda bermakna
(32,34)
.
HIDROGEN PEROKSIDA
Hidrogen peroksida (H,0 merupakan antiseptik karena
dapat melepaskan oksigen sebagai zat aktif
(35)
. Sebagai obat
kumur biasanya dipakai konsentrasi 3%.
Pemakaian hidrogen peroksida sebagai obat kumur dapat
mencegah/menghambat pertumbuhan bakteri plak
(36,37,38)
. Ham-
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 29
background image
batan ini dimungkinkan karena oksigen yang dilepaskan oleh
hidrogen peroksida akan mengoksidasi protein kuman sehingga
enzim kuman sebagai penyebab radang gingiva menjadi tidak
aktif
(35)
. Hampir 50% mikroorganisme anaerob terdapat pada
radang gingiva dan sangat sensitif terhadap oksigen. Penggunaan
larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur 3 kali sehari
selama 2 minggu dapat menurunkan pembentukan plak sebanyak
50% dan menurunkan indeks radang gingiva sebanyak 22%.
Pemakaian hidrogen peroksida 1% selama 5 hari juga dapat
mengurangi terjadinya radang gingiva dan menghambat pem-
bentukan plak
(37)
. Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3%
sebagai obat kumur selama 4 hari menunjukkan penurunan
indeks plak sebanyak 34% dan mengurangi terjadinya radang
gingiva
(39)
. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa
hidrogen peroksida sangat membantu kontrol plak secara mekanis.
CHLORHEXIDINE
Chlorhexidine merupakan derivat disquanid dan yang
umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya. Mempunyai
antibakteri dengan spektrum luas, efektif terhadap Gram positif
an Gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir efektivi-
tasnya sedikit lebih rendah
(6)
. Chlorhexidine sangat efektif
mengurangi radang gingiva dan akumulasi p1ak
(40)
, pendapat ini
sesuai pendapat bahwa larutan chlorhexidine sangat efektif di-
gunakan untuk plak kontrol pada perawatan radang gingiva
(42-44)
.
Efek anti plak chlorhexidine tidak hanya bakteriostatik
tetapi juga mempunyai daya lekat yang lama pada permukaan
gigi sehingga memungkinkan efek bakterisid
(45,46)
. Dengan
demikian akumulasi plak dapat dicegah, sehingga mengurangi
terjadinya radang gingiva.
Berbagai percobaan klinis menggunakan obat kumur me-
ngandung chlorhexidine telah banyak dilakukan dan ternyata
chlorhexidine berpengaruh terhadap gingivitis dan periodontitis.
Pengaruh ini pertama-tama dilaporkan oleh Loe dan Schiott
(47)
pada golongan Aarthus bahwa chlorhexidine dapat mengham-
bat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva.
Pembentukan plak dapat dicegah dengan kumur-kumur larutan
chlorhexidine 0,2%,dan tidak tampak tanda-tanda radang gingiva
setelah beberapa minggu walaupun tanpa membersihkan mulut
secara mekanis. Dinyatakan pula bahwa perawatan radang gingiva
dapat dilakukan dengan menggunakan obat kumur chlorhexidine.
Pernyataan ini menguatkan percobaan yang telah dilakukan di
beberapa negara, bahwa chlorhexidine dapat menghainbat per-
tumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva
(48)
.
Percobaan terhadap sekelompok anggota militer menggunakan
obat kumur chlorhexidine dua kali sehari untuk membantu
melakukan kebersihan mulut selama 4 (empat) bulan, hasilnya
menunjukkan penurunan pertumbuhan plak
(49)
. Namun di regio
yang terdapat poket dengan kedalaman 3 mm penurunan indeks
keradangan kurang bermakna.
Dapat disimpulkan bahwa pengaruh chlorhexidine terhadap
plak subgingival berkurang dibandingkan dengan plak supra-
gingival. Untuk meningkatkan pengaruh chlorhexidine terhadap
radang jaringan periodonsium yang mengandung poket perlu
dilakukan skeling.
Cara pemberian, frekuensi pemakaian serta konsentrasi
chlorhexidine ternyata mempunyai pengaruh. Aplikasi 0,2%
larutan chlorhexidine dibandingkan dengan kumur-kumur mem-
berikan hasil yang sama efektif
(50)
. Cara aplikasi ini tidak selalu
dapat dilakukan di tiap individu, tergantung dari keadaan klinis
penderita. Untuk hasil yang baik dari menyikat gigi 2 kali sehari
menggunakan 1% chlorhexidine gel di daerah dengan pem-
bentukan poket perlu dilakukan skeling
(51)
. Aplikasi pasta
chlorhexidine pada sekelompok anak-anak muda sekali sehari
menghasilkan penurunan indeks baik plak maupun radang gingiva,
tetapi kurang baik bila dibandingkan dengan pemberian 2 (dua)
kali sehari. Pemakaian chlorhexidine pada anak-anak yang ter-
belakang (mentally retarded) juga memberikan hasil yang ku-
rang memuaskan walaupun ada penurunan indeks plak dan ra-
dang gingiva
(53)
. Penelitian lain menyatakan bahwa ada pertum-
buhan plak pada pemakaian chlorhexidine dengan konsentrasi
yang rendah, walaupun tidak menunjukkan tanda-tanda akan
terjadi radang gingiva
(54)
. Percobaan yang dilakukan terhadap
mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi di Norwegia selama 2
tahun menunjukkan perbedaan yang kurang bermakna antara
grup kontrol yang melakukan penyikatan gigi dengan baik di-
bandingkan kelompok percobaan yang mcnggunakan obat ku-
mur chlorhexidine 0,2%
(22)
. Hasil ini menunjukkan bahwa
kontrol plak secara khemis pada penderita dengan kebersihan
mulut yang baik, tidak mempengaruhi kondisi gingiva secara
nyata.
MEKANISME KERJA CHLORHEXIDINE
Seperti telah disebutkan di atas chlorhexidine mempunyai
pengaruh yang luas terutama untuk bakteri Gram positif dan
Gram negatif, bakteri ragi juga jamur
(56)
. Pada pH fisiologis
chlorhexidine mengikat bakteri di permukaan rongga mulut;
tergantung konsentrasinya, dapat bersifat bakteriostatik atau
bakterisid. Sifat bakteriostatik bila konsentrasi antara 4­32 ug/
m1
(57)
; konsentrasi yang lebih tinggi akan menyebabkan efek
bakterisid, karena terjadinya presipitasi protein sitoplasma. Efek
bakterisid kurang penting dibandingkan dengan efek bakterio-
statik
(58)
.
Hambatan pertumbuhan plak oleh chlorhexidine dihu-
bungkan dengan sifat chlorhexidine untuk membentuk ikatan
dengan komponen-komponen pada permukaan gigi
(45,46)
. Ikatan
tersebut terjadi 15­30 detik setelah kumur dan lebih dari 1/3
bagian chlorhexidine diserap dan melekat, namun jumlah pe-
lekatan sebanding dengan konsentrasinya
(59)
. Penelitian menun-
jukkan bahwa pelekatan akan terjadi sampai 24 jam, yang berarti
sebanding dengan efek bakteriostatik terhadap bakteri
(60)
.
Dasar yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah
terjadinya ikatan antara chlorhexidine dengan molekul-molekul
permukaan gigi antara lain polisakarida, protein, glikoprotein
dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan dari hidroxiapatit.
Akibat terjadinya ikatan-ikatan tersebut maka pembentukan plak
yang merupakan penyebab utama dan radang gingiva diham-
bat . Penelitian menunjukkan bahwa larutan 0,2% chlorhexidine
(58)
sebagai obat kumur selama 1 minggu menurunkan indeks plak
sebanyak 72% pada hari ke 3 dan 85% pada hari ke 7, dan terjadi
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
30
background image
penurunan indeks radang gingiva sebanyak 32% pada hari ke 3
dan 77% pada hari ke 7
(61)
.
Tabel penurunan indeks plak dan indeks radang gingiva dari beberapa
antiseptik dibandingkan dengan plasebo/air
Antiseptik
(Obat kumur)
Lama
Pemakaian
Penurunan
Indeks plak
(dalam %)
Penurunan
Indeks radang
gingiva
(dalam %)
Listerin®
Povidone Iodine
(Betadine(&)
Hexetidine
(Bactidol ®)
Hidrogen Peroksidase
(H
2
O
2
3%)
Chlorhexidine
Gluconate 0,2%
(Minosep®)
1 bulan
3 bulan
6 bulan
9 bulan
10 hari
3 hari
7 hari
14 hari
14 hari
3 hari
7 hari
15,5
20,9
23,7
19,5*
Kurang
bermakna
25
52*
-
50*
72*
85*
5,1
9
20,8
23,9*
Kurang
bermakna
24
37
58*
22*
32
77*
Keterangan:
* Bermakna
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Bakteri plak merupakan penyebab utama terjadinya radang
gusi; mencegah atau mengurangi akumulasi plak akan dapat
mengurangi terjadinya radang gusi.
Bahan antiseptik sebagai obat kumur sangat membantu
mencegah terjadinya akumulasi plak dan menurunkan radang
gusi.
Listerin, Hexetidine, Hidrogen peroksida, dan Chlorhexi-
dine dapat membantu kontrol plak secara mekanis.
Povidone iodine (Betadine®) bukan untuk membantu kon-
trol plak secara mekanis karena menurunkan indeks plak dan
indeks radang gusi secara tidak bermakna, meskipun dapat
mengurangi jumlah bakteri dalam ludah.
KEPUSTAKAAN
1. Axelsson P. Lindhe J. Effect of controlled oral hygiene procedures on caries
and periodontal disease in adults-results after 6 years. J. Clin. Periodontol.
1981; 8: 239­48.
2. Loe H, Theilade E. Jensen SB. Experimental gingivitis in man. J. Periodon.
1965; 36: 177­87.
3. Theilade E. Wright WH, Jensen SB, Loe H. Experimental gingivitis in
man. II. A longitudinal clinical and bacteriological investigation. J.
Periodon. Res. 1966; 1: 1­13.
4. Page. Schroeder HE. Pathogenesis of inflammatory oeriodontal disease. A
summary of current work. Lab. Invest. 34: 235­249.
5. Addy M. Chlorhexidine compared with other locally delivered antimicro
bial. J. Clin. Penodontol. 1986; 13: 957­64.
6. Kartanegara SS. Farmakologi beberapa qptiseptik dan infeksi nosokomial.
Penataran Pengelolaan/lsolasi Penderita Penyakit Menular. Dit. P3M Dep.
Kes. RI. Jakarta 26-31 Maret 1984.
7. Lusk SS, Bower GM, Watso Wi, Moffitt WC, Tow HD. Effect of an oral
rinse on experimental gingivitis, plaque formation and formed plaque. J.
Am. Soc. Preventive Dentistry 1974; 4: 31­4.
8. Axelsson P. Lindhe J. The effect of preventive program on dental plaque,
gingivitis and canes Result after one and two years. J. Clin. Periodontol.
1974; 1: 126­38.
9. Suomi JD, Greene JC, Vermillion JR. Doyle J, Chang ii, Leatherwood EC.
The effect of controlled oral hygiene procedures on the progression of
periodontal disease in adults : Results after third and final year. J.
Periodont. l97l;42: 152­60.
10. Lang NP. The implications of antiseptics, enzymes and vaccines in plaque

0 komentar:

Poskan Komentar